Tutup Kegiatan Bimtek Penyusunan Instrumen Penilaian Hasil Belajar, Ini Pesan Kasubdit Kurev

Tutup Kegiatan Bimtek Penyusunan Instrumen Penilaian Hasil Belajar, Ini Pesan Kasubdit Kurev

Kepala Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Dr. Suwardi, M.Pd, secara resmi menutup kegiatan Bimbingan Teknis Penyusunan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Angkatan 4. Kegiatan penutupan tersebut dilaksanakan di Ruang Ulin I, Hotel Mercure Pontianak (13/11).

Turut hadir dalam kegiatan penutupan tersebut Mad Rais, S.Ag., S.Pd selaku Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak, Ahmad Zainal selaku Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat serta Dr. Zulkifli, S.Ag., M.Si. selaku Kasi Kurikulum dan Evaluasi MA/MAK Ditjen KSKK Kementerian Agama.

Dalam arahannya, Dr. Suwardi, M.Pd berpesan kepada peserta agar mendeseminasikan dan menularkan apa yang sudah didapat dari kegiatan tersebut, baik di madrasahnya maupun dalam lingkup yang lebih luas seperti KKM/MGMP. Ia berharap agar setelah mengikuti kegiatan bimtek, para peserta dapat menyusun instrumen penilaian dengan kualitas yang lebih baik. Menurutnya, semakin banyak guru yang hebat dalam menyusun intstrumen penilaian, maka akan semakin baik pula mutu dan kualitas madrasah tersebut.

Khusus kepada para Waka Kurikulum yang mengikuti kegiatan tersebut, Dr. Suwardi, M.Pd mengingatkan bahwa tugas dan fungsi utama Waka Kurikulum adalah menjamin kualitas proses pembelajaran di madrasah. Ia mengibaratkan tugas Waka Kurikulum dengan seorang chef.

“Ibaratkan rumah makan, Waka Kurikulum itu chefnya, kepala tukang masaknya, kepala kokinya, bukan tukang masaknya tapi kepala tukang masaknya. Guru-guru diibaratkan tukang masaknya, Waka Kurikulum itu kepala tukang masak atau chefnya. Tugas chef adalah membuat menu, membuat racikan bumbu, kemudian disampaikan kepada tukang masak, tugas tukang masak adalah menjalankan ramuan yang dibuatkan chefnya. Oleh karena itu, chef harus lebih hebat dari tukang masak,” jelasnya.

Lebih jauh ia memberikan tips menjadi Waka Kurikulum yang sukses. Ia menjelaskan bahwa menjadi Waka Kurikulum yang sukses itu tidak sulit. Menurutnya, Waka Kurikulum harus bisa mengoptimalkan potensi guru-guru yang ada di madrasah. Semakin pintar dan semakin banyak keterampilan yang dimiliki guru madrasah maka tugas Waka Kurikulum semakin ringan. Oleh karenanya ia berpesan agar guru-guru diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri, berkreasi, berinovasi dan menampilkan performance-nya. Ia menambahkan bahwa setiap guru pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

“Caranya untuk mengoptimalkan kemampuan guru adalah lihat kelebihannya, jangan lihat kekurangannya. Kalau bapak/ibu selaku Waka Kurikulum cara berfikirnya melihat kekurangan orang maka tidak bisa memajukan madrasah karena yang ada di dalam benak kita adalah kekurangan orang. Maka yang paling bagus adalah petakan dulu potensi, kehebatan masing-masing orang di madrasah, dan optimalkan itu, maka Insyaallah di madrasah akan luar biasa,” jelasnya. (slm.mankr)

Leave A Comment